Mas Sugeng's Blog

Hasil dari sebuah keisenganku

Pendakian Gunung Slamet

Gunung slamet terletak di perbatasan Kabupaten Brebes, Purbalingga, Purwokerto, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di pulau Jawa setelah gunung Semeru. Ketinggian gunung slamet mencapai 3.432 m dpl sehingga tidak ada hujan di ketinggian itu karena karena awan berada lebih rendah dari puncak gunung. Di sana tidak ada tanaman apa-apa yang ada hanya pasir dan batuan berwarna merah mungkin batuan itu berasal dari lava pijar yang mendingin sehingga warnanya merah. Jalur pendakian setahu saya ada 3 yaitu: jalur Baturaden, Blambangan, dan tegal. Yang paling mudah didaki adalah jalur Blambangan.

Sekitar tahun 2001 saya dan kawan-kawan Larepa (lingkungan Anak Remaja Pecinta Alam) ekstrakulikuler pecinta alam SMA 1 Cilacap melakukan pendakian perdana di gunung Slamet. Namanya juga pendakian perdana tentunya kami belum punya pengalaman apa-apa tentang mendaki gunung yang kami tahu hanya teori-teori yang biasa kami dapatkan di hari kamis pada latihan rutin kita. Kami berangkat dari Cilacap ke Purwokerto naik bus begitu juga dari Purwokerto ke desa Blambangan.

Kami melakuan pendakian pada malam hari, kebetulan waktu itu hujan jadi medannya bertambah berat. Untung peralatan yang kami bawa lumayan lengkap. Peralatan yang harus disiapkan oleh seorang pendaki gunung adalah:

  1. Tas ransel/carrier. digunakan untuk menampung perbekalan dan pakaian selama mendaki gunung. Klo bisa antara barang-barang didalam ransel dilapisi plastic sehingga barang-barang tidak basah ketika terkena air. Letakan barang yang paling sering dibutuhkan di tempat paling atas.
  2. Tenda kemah/tenda dom
  3. Perlengkapan jalan: sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.
  4. Perlengkapan tidur : sleeping bag, matras dll.
  5. Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek dll.
  6. Perlengkapan pribadi : obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.
  7. perlengkapan lain klo ada: kompas, peta, tabung oksigen ukuran kecil, walkie talkie, dll.

Selain peralatan persiapan fisik dan mental tidak kalah penting. Persiapan fisik bisa berupa latihan rutin, pemanasan dll. Persiapan mental diantaranya pengetahuan tentang medan, pengetahuan mendaki gunung, pengetahuan survival, dll.

Kembali ke cerita saat itu kami mendaki dari pos 1 dan berhenti di pos terakhir. Disana kami membangun tenda untuk istirahat karena klo nggak salah sampai di sana sudah tengah malam. Kami beristirahat untuk persiapan mendaki ke puncak di pagi harinya. Pelawangan adalah nama pos terakhir pendakian dan merupakan tempat terakhir yang terdapat air, setelah itu tidak akan lagi bisa ditemukan selama pendakian menuju ke puncak yang ada hanya pasir dan batu dari ukuran kerikil sampai dengan ukuran gajah. Medan antara Pelawangan menuju puncak sangat berat, sudut pendakian lebih dari 45% sehingga sangat menguras tenaga. Kami berangkat dari pelawangan kira-kira jam 6 pagi, pelan-pelan kami mendaki Alhamdulillah sampai juga kami di Puncak. Subahanalloh betapa indahnya ciptaan Alloh Robbil ‘alamin. Diatas puncak kami bisa melihat awan-awan yang bertaburan dibawah kami. Kami benar-benar berada di atas awan waktu itu ini bukan idiom loh…. Ini kenyataan. Melihat kawah slamet, melihat puncak gunung sindoro, sumbing, merapi, cerme. Melihat pemandangan kota dari atas, hijaunya hutan pokoknya keren abizlah. Apalagi klo bisa melihat sunrice or sunset di sana akan lebih lengkap lagi keindahan itu. Kami tidak bisa berlama-lama di puncak  karena kawah slamet akan mengeluarkan gas berbahaya pada siang hari.

Tidak seperti mendaki perjalanan menurunin gunung tidak begitu berat. kami turun dengan membawa pengalaman baru, pengalaman mendaki gunung yang nanti kita bisa ceritakan semuanya ketika kami sudah sampai di Cilacap. Kira-kira maghrib kami sampai di basecamp desa blambangan.

5 November 2009 - Posted by | Wisata dan Petualangan | , ,

4 Komentar »

  1. btw,treck lwt purbalingga susah gak??

    Komentar oleh hermawan | 12 Februari 2010 | Balas

  2. saya terkhir mendaki tahun 2003 trecknya enak, nggak ada tanjakan yang curam, cuman setelah pos terakhir (pelawangan) yang nanjak lumayan curam jadi perlu ekstra hati-hati. di pelawangan juga ada mata air jadi nggak usah takut kekurangan air di atas. kayaknya disepanjang treck sudah ada tandanya jadi kemungkinan nyasar bisa dihindari.
    makasih dah berkunjung di blog saya
    salam rimba.

    Komentar oleh sugeng prayitno | 12 Februari 2010 | Balas

  3. pengen naik ke gunung semeru

    Komentar oleh tekix | 16 Februari 2010 | Balas

  4. silahkan aja om tetik mencoba. pengalamannya seumur hidup

    Komentar oleh sugeng prayitno | 16 Februari 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: